Salah satu sanggar yang ada di kuningan. Sanggar ini merupakan yang memfokuskan untuk anak didiknya mempunyai bakat tari. Banyak tarian yang diajarkan di sanggar ini. Selain tarian, disini juga diajarkan musik gamelan, sinden, dll. Sanggar ini sudah dipercaya untuk mengiring upacara adat, biasanya untuk diacara pernikahan

Minggu, 19 Januari 2020

SEJARAH WAYANG GOLEK


Wayang golek

Berkas:Wayang Golek Sunda PRJ 1.jpg

Wayang golek merupakan salah satu dari ragam kesenian wayang yang terbuat dari bahan kayu yang merupakan hasil perkembangan wayang kulit dari keterbatasan waktu supaya dapat ditampilkan pada siang atau malam hari. Pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kudus di daerah Kudus (dikenal Wayang Menak), Cirebon (dikenal Wayang cepak) lalu Parahyangan. Wayang golek sangat populer di wilayah Jawa Barat, daerah penyebarannya terbentang luas dari Cirebon hingga Banten.

Sejarah

Sekitar tahun 1583, Sunan Kudus yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di pulau Jawa pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Wayang tersebut dipertontonkan di siang dan malam hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam. Sunan Kudus menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat.

Munculnya kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara pulau Jawa pada awal abad ke-17. Dikarenakan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur telah terlebih dahulu mengenal wayang kulit, kehadiran wayang golek kurang begitu berkembang, karena masyarakat disana terlanjur menggemari wayang kulit. Namun wayang golek Sunan Kudus itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri Cirebon yang sedang berkunjung (atau berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke Cirebon.

Pementasan wayang golek di tanah Parahyangan dimulai sejak Kesultanan Cirebon berada di tangan Panembahan Ratu (1540-1650) cicit dari Sunan Kudus. Yang dipertunjukan saat itu adalah wayang cepak (atau wayang golek papak), disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar.

Selanjutnya ketika kekuasaan Kesultanan Cirebon diteruskan oleh Pangeran Girilaya (1650-1662), wayang cepak semakin populer dimana kisah babad dan sejarah tanah Jawa menjadi inti cerita, yang tentunya masih sarat dengan muatan agama Islam.
Lalu wayang golek dengan cerita dari epos Hindustan seperti Ramayana dan Mahabarata seperti yang sekarang mulai hadir kisah-

kisah Ramayana dan Mahabharata tersebut kemungkinan besar pertama kali lahir dan berkembang dalam pertunjukan wayang kulit. Semula kisah tersebut menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah banyak dalang-dalang dari kalangan orang Sunda, maka bahasa Sunda pun mulai menggantikan penggunaan bahasa Jawa.
Perkembangan selanjutnya adalah wayang golek purwa yang tidak bisa dilepaskan dari peran Wiranata Koesoemah III (Bupati Bandung ke-6). Beliau sangat menggemari wayang, tetapi ia menginginkan suatu pertunjukan yang lebih menarik dan memiliki nilai-nilai keSunda-an.

Akhirnya ia meminta salah seorang pengrajin wayang kulit bernama Ki Darman (pegiat wayang kulit asal Tegal) di daerah Cibiru, Ujungberung, Bandung untuk membuat bentuk wayang golek yang lebih menarik dengan bentuk kepala / rupa yang benar-benar menyerupai manusia. Maka lahirlah bentuk Wayang Golek Sunda seperti yang kita lihat sekarang.

Wayang golek semakin populer, tidak lagi sebatas konsumsi kaum menak, tapi masyarakat biasa pun mulai menggemari wayang golek ini. Wayang golek pun semakin menyebar ke segala penjuru Jawa Barat setelah dibukanya De Grote Postweg (Jalan Raya Daendels) yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Barat.

Dari paparan diatas maka di tanah Parahyangan bermula muncul wayang-wayang klasik seperti wayang golek papak, wayang golek purwa dan wayang golek Pakuan. Wayang Golek Papak masih dipertontonkan di daerah Cirebon, dengan kisah babad yang menggunakan bahasa Cirebon.

Wayang Golek Purwa, memainkan kisah Mahabharata dan Ramayana yang diadopsi dari pementasan wayang kulit namun menggunakan campuran bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Wayang golek pakuan, kisah yang ditampilkan adalah kisah-kisah legenda Priangan seperti Sangkuriang, Mundinglaya Dikusumah, Lutung Kasarung dan lain-lain.

Share:

Jumat, 17 Januari 2020

PAGELARAN KESENIAN TARI




Pengertian Pergelaran Tari 
       Pergelaran karya seni tari merupakan pertunjukan atau penyajian tari yang ditujukan kepada orang lain atau penonton. Pergelaran tari di sekolah menjadi proses belajar siswa dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya serta keterampilan dan bakat lewat gerak. Pergelaran seni sering didukung dengan cabang seni yang lain untuk mendapatkan sajian pergelaran tari yang indah dan memukau. Bagi penonton, pergelaran seni dapat dijadikan sebagai kegiatan apresiasi untuk mengembangkan kreativitas. 
Teknik Pergelaran Tari 
         Teknik dan prosedur dalam pergelaran harus dilaksanakan melalui tahapan yang panajng untuk mendapatkan hasil sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Tahapan tersebut mulai dari perencanaan matang. Diperlukan strategi khusus agar penyelenggaraan pergelaran tersebut tetap dapat diminati dan dinikmati oleh penonton. Susunan acara yang dibuat jangan monoton karena akan membuat penonton bosan. Berikut Teknik-tekniknya : 
Meyusun Acara Pergelaran 
          Pergelaran tari dimulai dari pemilihan materi yang sesuai dengan tujuan diadakannya pergelaran tersebut, serta audiens atau penonton yang hadir. 
Menata Ruagan Pergelaran
                Menata ruang pergelaran tidak dapat dilakukan secara asal-asalan. Artinya tata ruang pentas untuk tari tunggal, berpasangan, dan kelompok tentu berbeda penanganannya. 
Meampilkan Tari Kelompok  Atau Berpasangan
               Pentas di atas panggung pada hakikatnya adalah mengadakan tatap muka dengan penonton. Saat menari di atas panggung penari harus menguasai dan menghayati semua tokoh yang tengah diperankan. 
Prosedur Tari 
Prosedur dalam pagelaran karya seni tari itu sendiri meliputi empat hal, yaitu sebagai berikut: 
Membentuk Kepanitiaan 
Pergelaran dapat berhasil secara optimal, apabila dipersiapkan secara matang. Masalah yang berhubungan dengan persiapan dan pelaksanaan kegiatan dilaksanakan oleh panitia. Panitia adalah suatu wadah untuk mengelola dan melaksanakan suatu kegiatan. 
Menyusun Jadwal Kegiatan 
Jadwal kegiatan pertujukan tari dipersiapkan oleh setiap seksi di bawah koordinasi ketua panitia. Saat menyusun jadwal pertunjukan, perhatikanlah hal-hal berikut. 
1. Waktu dan tempat pagelaran. 
2. Waktu dan tempat untuk memberikan pengarahan bagi seksi-seksi acara. 
3. Waktu pembuatan kelengkapan pertunjukkan tari. 
4. Waktu dan tempat untuk gladi bersih. 
5. Waktu penutupan pertunjukan tari dan pembubaran panitia pertunjukan. 
Penampilan Pagelaran Tari 
Pelaksanaan pagelaran tari secara praktik telah dilakukan sebelum kegiatan pertunjukan itu berlangsung, yakni ketika panitia mulai memberikan arahan untuk memulai kegiatan kepanitiaan. Termasuk juga segala pematangan karya yang akan dipentaskan oleh penari, juga merupakan awal pelaksanaan pagelaran. Dalam hal ini, segala kendala pelaksanaan pagelaran harus segera dipikirkan cara mengatasinya. Di sinilah tugas keorganisasian pagelaran saat pelaksanaan pagelaran. Sebesar apapun perbedaan pendapat yang muncul saat mencari solusi menemukan kendala dalam pelaksanaan pagelaran, kepanitiaan pagelaran harus tetap fokus pada rencana awal, yakni pelaksanaan pagelaran seni tari yang sukses. 
Unsur-Unsur Tari 
Unsur utama seni tari adalah unsur esensial dan pokok yang harus melekat dalam sebuah tarian. Apabila salah satu dari unsur ini hilang atau tidak diperhatikan, maka suatu pertunjukkan sendratari tidak akan harmonis. Rasanya ada yang kurang, bahkan bisa jadi penonton tidak lagi dapat mengerti maksud dari tarian tersebut. 
Maka dari itu, unsur utama ini menjadi poin penting keberhasilan suatu tari yang dibawakan. Juga, menjadi penilaian penting apabila tari ini menjadi pertunjukkan yang dinilai oleh ahli seni. Berikut tiga unsur utama dalam seni tari: 
Wiraga (raga) 
Wiraga dalam bahasa Jawa berarti raga, yang dalam konteks seni tari biasa dikenal dengan gerakan. Tarian harus menonjolkan gerakan tubuh yang dinamis, ritmis, dan estetis. Meskipun, memang tidak semua gerakan dalam suatu seni tari memiliki maksud tertentu. Gerak biasa atau gerak murni adalah gerakan dalam sebuah tarian yang tidak memilki maksud tertentu, sedangkan gerak maknawi adalah gerakan dalam sebuah tarian yang memiliki makna mendalam dan memiliki maksud tertentu. 
Wirama (irama) 
Tidak mungkin sebuah seni tari hanya melulu penari bergerak kesana kemari tanpa adanya musik yang mengiringi. Musik berfungsi untuk mengiringi gerakan penari. Dengan adanya musik, suatu gerakan akan lebih memiliki makna karena tercipta suasana tertentu. 
Wirasa (rasa) 
Seni tari harus bisa menyampaikan pesan dan suasana perasaan kepada penonton melalui gerakan dan ekspresi penari. Oleh karena itu, seorang penari harus bisa menjiwai dan mengeskpresikan tarian tersebut melalui mimik wajah dan pendalaman karakter. Sebagai contoh, apabila karakter yang dimainkan adalah gadis desa yang lembut maka selain gerakan yang lemah gemulai, penari juga harus menampilkan mimik wajah yang mendukung. 
Tata Rias dan Kostum 
Tidak mungkin sebuah pertunjukkan tarian menampilkan penari dengan kostum dan riasan seadanya. Pasti ada riasan khusus dan kostum yang sesuai dengan tarian dan karakter yang dibawakan oleh penari. Unsur ini mendukung terciptanya suasana tarian dan menyampaikan karakter serta pesan secara tersirat. 
Pola Lantai 
Tarian akan indah apabila penari bisa menguasai pola lantai. Tidak hanya melulu berada di tengah panggung tapi juga bergerak kesana kemari sehingga tidak membuat penonton bosan karena monoton. Hal ini juga sangat penting untuk tarian yang dibawakan oleh banyak penari supaya antar penari tidak saling bertabrakan sehingga gerakan yang ditampilakan dapat selaras, kompak, dan teratur. 
Setting Panggung 
Seni pertunjukkan tari yang baik akan memperhatikan pengaturan panggungnya. Hal ini penting karena dengan adanya panggung yang sesuai tarian, tidak terlalu sempit, dan tertata rapi akan menimbulkan kesan pada penonton. Setting panggung yang dimaksud juga termasuk pencahayaan. Sekiranya, panggung sendratari tidak terlalu terang tetapi juga tidak terlalu gelap. Intinya, penata ruangan harus bisa menyesuaikan dengan tari yang akan dibawakan. 
Properti 
Dalam tarian tertentu, penari akan membawa properti. Properti ini merupakan alat pendukung seperti selendang, piring, payung, lilin. Meskipun memang tidak semua tarian menggunakan properti, unsur ini juga perlu diperhatikan untuk mendukung visualisasi tarian. 
Tari Jaipong yang diiringi lagu Daun Pulus Keser Bojong sempat booming di era 80-an, tepatnya muncul pada 1982. Sejak saat itulah, Jaipong menjadi tarian khas asal Jawa Barat (Jabar) yang terkenal secara nasional bahkan mendunia. 
Tari lagu Daun Pulus Keser Bojong seakan menjadi marterpiece bagi seni tari Jaipong yang dipopulerkan oleh Gugum Gumbira. Masyarakat seni tari bahkan masyarakat umum heboh de­ngan kemunculannya pada 1982. 
          Lagu Daun Pulus Keser Bojong bah­kan tidak hanya populer di Jabar saja, tapi ke seluruh Indonesia. Penjualan kasetnya bahkan tembus hingga dua juta keping. Sebuah raihan fenomenal bagi penjualan kaset yang bukan lagu populer saat itu. Seni tradisi ternyata mampu ber­saing dalam pasar pop kreatif. Yang menjadi terkenal juga adalah tarian Jaipongnya. Dengan tiga gerak­an khas yakni tiga G, Gitek, Geol dan Goyang, yang merupakan pakem baru saat itu, langsung mengambil hati ma­syarakat. Pertunjukan jaipongan kala itu laris dan menjadi tontonan wajib, baik di acara seni hingga acara hajatan. Namun, tarian Jaipong juga diang­gap vulgar oleh sejumlah orang bahkan pejabat di Jabar saat itu. Sehingga sempat pula dilarang tampil, apalagi di acara-acara resmi pemerintahan. Saat kemunculan pertama pada 1982, pro kontra muncul. Gubernur Jabar bahkan melarang. Tahun-tahun berikutnya pun demikian hingga era 90-an. Kaum ibu dan agamawan menganggap gerakan Jaipong sangat erotis dan vulgar sehing­ga penari Jaipong pun direndahkan derajatnya. 
            Namun perkembangan seni Jaipong tetap berjalan. Tetap mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat Jabar, yang akhirnya diakui bukan se­bagai seni rendahan namun memiliki nilai luhung sebagai bentuk hasil sosial bidaya masyarakat tatar Sunda. Beberapa penari Jaipong yang ke­mudian terkenal antara lain Tati Saleh, Yeti Mamat dan Eli Somali. Semakin ter­kenal dengan munculnya Daun Pulus. Kehadiran trio ini semakin menarik bagi perkembangan Jaipongan di Jabar. Apa­lagi kemudian artis dangdut Camelia Malik juga sering menari Jaipongan saat melantunkan lagu dangdut di setiap konsernya. Mas Nanu Muda, pelaku seni tradisi Jabar bercerita, jika proses terciptanya Daun Pulus Keser Bojong terjadi saat malam hari, ketika Gugum Gumbira, sang maestro, sedang memandang pohon yang daunnya lebar seperti daun jati, namanya daun pulus. Muncullah syair lagu dari daya kreativitasnya yang tinggi. Karena Gugum juga dikenal sebagai tukang kendang, pelaku dunia tari Jabar dan menguasai ketuk tilu, tayuban, bangreng hingga bajidoran ditambah pencak silat, membuatnya mudah menemukan gerakan baru. Menurut Mas Nanu, gerakan-gera­kan Jaipong menunjukan kesederha­naan melalui goyang pinggul yang sa­ngat komunikatif dengan segala lapisan masyarakat. Makanya tidak heran Daun Pulus membumi di tatar Pasundan. Tarian ini bahkan seakan menjadi ikon seni tari dari Jabar.
Share:

PERKEMBAGAN TARI JAIPONG



          Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, ulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apa lagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara). 
         Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tetapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor). Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep. 
         Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini tampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak memengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni. 
Tari Jaipong Sekarang 
         Tari Jaipong merupakan salah satu identitas kesenian Jawa Barat. Tari ini seringkali dipentaskan saat acara-acara penting, seperti penyambutan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat. Jaipongan juga sering diikutsertakan dalam misi-misi kesenian ke luar negeri. Tanggapan masyarakat dunia tentang tarian satu ini juga cukup bagus. Mereka bahkan dengan senang hati ikut menari. Walaupun terlihat mudah hanya tinggal menggoyang-goyangkan pinggul, ternyata menari Jaipong itu tidak semudah kelihatannya. Gerakan Jaipongan itu sangat dinamis dan energik. Hanya penari yang mempunyai stamina bagus saja yang akan bisa menarikan tarian ini dengan mudah. Bagi yang baru belajar, pasti akan terlihat betapa kakunya pinggang sang penari. Tarian yang mirip dengan tarian dari Betawi ini kadang dianggap sebagai tarian yang terlalu seksi. Goyang pinggul penari yang terlalu panas bisa membuat suasana semakin panas. Tidak mengherankan kalau tarian ini sempat akan dilarang tampil bila penampilan para penari dianggap terlalu seronok. 
         Tari Jaipong juga banyak dipelajari oleh para artis. Mereka menganggap tari Jaipong itu akan membentuk tubuh menjadi cukup seksi dan tidak harus ke Fitness Center lagi. Di antara artis yang terkenal mampu menarikan tari Jaipong dengan cukup baik adalah Camelia Malik. Walaupun tubuhnya sudha sangat tambun dan usianya sudah tidak muda lagi, gerakan tari Jaipong yang dilakukan oleh sang biduan dangdut ini masih cukup luwes dan enak dipandang. Untuk kaum muda atau artis muda yang juga mampu menarikan tarian Jaipong dengan luwesnya adalah Denada. Tubuh Denada yang dahulunya cukup berisi, sekarang terlihat langsing dan singset berkat gerakan dalam tarian Jaipong. Tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan tari Jaipong memang sangat energik dan mampu menggerakan semua anggota tubuh sehingga lemak di pinggang, perut, dan paha, akan tergerus dengan cepat. Keringat akan mengucur dengan deras. Bagi pemula, gerakan tarian dari Jawa Barat ini cukup berat. Dianjurkan untuk tidak terlalu memporsir tenaga. Lakukan dahulu gerakan pemanasan dan gerakan sederhana sebelum sedikit demi sedikit mulai melakukan gerakan yang cukup sulit. Bila telah latihan untuk sekian lama dan dirasa tubuh sudah mulai lentur, barulah melakukan gerakan tarian Jaipong yang lebih rumit dan masuk dalam regu. 
Melakukan gerakan bersama-sama membutuhkan kekompakan dan kesamaan gerakan yang serasi. Kalau satu penari Jaipong dianggap tidak mampu mengimbangi penari yang lain, semua gerakan keseluruhan menjadi tidak terlalu sedap dipandang mata. 
Anggapan Masyarakat Tentang Tari Jaipong 
      Bagi masyarakat Jawa Barat, Jaipongan telah menjadi bagian dari budaya mereka. Mereka mencintai budaya ini. Walaupun sekarang tampaknya tidak banyak lagi anak muda yang mempelajari tari Jaipong. Terutama ketika Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan, mengungkapkan buah pikirannya tentang tarian yang dipandangnya cukup erotis. Sebenarnya gerakan Jaipongan ini ada yang tidak terlalu cepat. Kecepatannya memang tergantung pada musik dan keinginan para penonton dan kesanggupan sang penari. Tetapi sepintas memang terlihat sangat menggoda terutama di bagian pinggul dan pantat. Apalagi ketika ada saweran dan yang memberikan saweran boleh ikut menari. Tidak jarang laki-laki yang memberikan saweran itu menyentuh atau mencoba menyentuh tubuh penari Jaipong. Yang lebih parah lagi adalah penonton senang dengan tingkah laku orang yang memberikan saweran yang mencoba menggoda penari. Mereka bersorak ketika terlihat penari yang mencoba menghindar. 
          Keadaan ini dianggap sudah melenceng dari tujuan diadakannya Jaipongan di satu acara. Tentu saja bagi Gubernur Jawa Barat yang cukup religius tersebut, adalah tanggung jawabnya melindungi rakyatnya dari perbuatan zinah atau perbuatan yang mendekati zinah. Melihat keadaan tersebut, sebaiknya tari Jaipong dikembalikan kepada tujuan penciptaannya semula. Tidak terlalu vulgar walaupun masih mempertontonkan atraksi yang menarik dan atraktif.
Share:

FILOSOFI TARI JAIPONG




      Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H. Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain. Jaipongan di karawang pesat pertumbuhannya di mulai tahun 1976, di tandai dengan munculnya rekaman jaipongan “SUANDA GROUP” dengan instrument sederhana yang terdiri dari gendang, ketuk, kecrek, goong, rebab dan sinden atau juru kawih. Dengan media kaset rekaman tanpa label tersebut (indie label) jaipongan mulai didistribusikan secara swadaya oleh H Suanda di wilayah karawang dan sekitarnya. Tak disangka Jaipongan mendapat sambutan hangat, selanjutnya jaipongan menjadi sarana hiburan masyarakat karawang dan mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari segenap masyarakat karawang dan menjadi fenomena baru dalam ruang seni budaya karawang, khususnya seni pertunjukan hiburan rakyat. Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternative dari seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam bentuk komposisi tariannya. 
      Mungkin di antara kita hanya tahu asal tari jaipong dari Bandung ataupun malah belum mengetahui dari mana asalnya. Dikutip dari ucapan kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata ( Disbudpar ) Karawang, Acep Jamhuri “Jaipong itu asli Karawang. Lahir sejak tahun 1979 yang berasal dari tepak Topeng. Kemudian dibawa ke Bandung oleh seniman di sana, Gugum Gumilar. Akhirnya dikemas dengan membuat rekaman. Seniman-seniman Karawang dibawa bersama Suwanda. Ketika sukses, yang bagus malah Bandung. Karawang hanya dikenal gendangnya atau nayaga (pemain musik). Makanya sekarang kami di Disbudpar akan mencoba menggali kembali seni tari Jaipong bahwa ini seni yang sesungguhnya berasal dari Karawang”. Tari ini dibawa ke kota Bandung oleh Gugum Gumbira, sekitar tahun 1960-an, dengan tujuan untuk mengembangkan tarian asal karawang dikota bandung yang menciptakan suatu jenis musik dan tarian pergaulan yang digali dari kekayaan seni tradisi rakyat Nusantara, khususnya Jawa Barat. Meskipun termasuk seni tari kreasi yang relatif baru, jaipongan dikembangkan berdasarkan kesenian rakyat yang sudah berkembang sebelumnya, seperti Ketuk Tilu, Kliningan, serta Ronggeng. Perhatian Gumbira pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian menjadi inspirasi untuk mengembangkan kesenian jaipongan. 
           Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi terbentuknya tari pergaulan ini. Di kawasan perkotaan Priangan misalnya, pada masyarakat elite, tari pergaulan dipengaruhi dansa Ball Room dari Barat. Sementara pada kesenian rakyat, tari pergaulan dipengaruhi tradisi lokal. Pertunjukan tari-tari pergaulan tradisional tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara bergaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan. 
         Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam topeg banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pecak Silat. 
          Tarian ini mulai dikenal luas sejak 1970-an. Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan. Jauh sebelum Jaipongan muncul, menarikan tarian terutama oleh kalangan perempuan menak (kaum bangsawan dan kalangan konservatif), dianggap tabu. Hal ini berawal dari rusaknya citra penari yang dulu populer dengan sebutan ronggeng. Semakin ke sini, Tayuban yang lebih santun diperbolehkan, selama yang menari adalah laki-laki, dan jika ada penari perempuan haruslah yang berasal dari kalangan somah (rakyat). 
          Ketika jaipongan akhirnya muncul, penyampaiannnya dalam masyarakat pun menjadi berbeda. Tiap gerakan memiliki filosofi tersendiri. Dalam tari, seringkali ditemukan ungkapan yang menggambarkan suatu kondisi masyarakat dan budayanya. Umumnya sang koreografer memiliki pemikiran tersendiri hingga dituang dalam gerakan tari. Tarian cenderung dijadikan media untuk menyampaikan aspirasi yang mungkin sulit diucapkan lewat kata. Jika perempuan begitu sulitnya menyatakan bahwa mereka ingin keluar dari kukungan stereotip sosok perempuan yang ideal serta aturan mengikat yang membatasi ruang gerak, maka mereka bisa mengaspirasikannyaa lewat tari, dan dalam tataran Sunda, gerakan dalam Jaiponganlah yang bisa menyampaikannya. Sejak ditampilkan pertama kali, Jaipong dianggap sebagai tarian modern yang mampu menggebrak gaya konservatif. Selain menyuarakan emansipasi, jaipongan memperlihatkan simbol kebebasan dan pemberontakan lewat gerakan Perhatikan saja, gerakan pecak silat yang dikreasikan dalam jaipong membuktikan bahwa seni dalam bentuk apa pun tidak membedakan jenis kelamin, yang dengan kata lain menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki setara. Gerak pencak, tangkis, gibas, meupeuh, dan giwar yang menunjukkan kejantanan, bisa dipoles dan disesuaikan sedemikian rupa dalam tarian jaipong untuk memperlihatkan keindahan dan kelembutan perempuan, namun menggunakan kekuatan yang tidak berbeda dengan laki-laki. 
         Gerak cingeus yang tergambar lewat gesitnya gerakan tubuh dan kepala menunjukkan kecekatan dan keluwesan perempuan dalam menghadapi tantangan hidup. Gerak kaki dalam jaipong seperti gerak depok, sonteng, minced, dsb, yang menggambarkan kegesitan dan penyesuaian diri perempuan Sunda masa kini. Gerakan liukan tubuh serta kelenturan seluruh anggota badan dalam menarikan jaipong menunjukkan gambaran perempuan fleksibel dalam menghadapi segala perubahan dan persoalan hidup. Gerak galeong ditambah lirikan mata menggambarkan perempuan masa kini yang berani menyuarakan pendapat serta mampu berkomunikasi. Jika dilihat dari perpaduan variasi tempo musik dan dinamika gerakan yang kadang cepat, sedang, dan lambat, dapat dilihat bahwa perempuan Sunda tidaklah monoton dan bisa menyelaraskan diri sehingga tidak membosankan.  Secara menyeluruh, gerakan dalam jaipongan telah menggambarkan perempuan Sunda masa kini yang enerjik, penuh semangat dan tidak pantang menyerah, ramah, genit, berani, gesit dan lincah, namun tetap kuat dan santun. Ini secara langsung mengubah stereotip lama soal perempuan Sunda cantik-cantik tapi malas.
Share:

POLA LATAI DALAM TARIAN JAIPONG

.


POLA LANTAI 
Pola lantai adalah pola denah yang dilakukan oleh seoarang penari dengan perpindahan, pergerakan, dan pergeseran posisi dalam sebuah ruang (space) untuk menari. Pola lantai ini sebenarnya merupakan teknik blocking (penguasaan panggung) seoarang penari. Pola lantai berfungsi untuk membuat posisi dalam sebuah ruang gerak. Dalam sebuah tarian (terutama tari kelompok), pola lantai perlu diperhatikan. Ada beberapa macam pola latai pada taria, yaitu : 
1. Pola Lantai Horizontal 
Mengenai maksud dari pola lantai ini ialah para penari berbaris membentuk garis lurus ke samping. Ada yang menyatakan, pola lantai jenis horizontal ini diterapkan oleh tari Saman yang berasal dari Aceh. 
2. Pola Lantai Vertikal (lurus) 
Adapun maksud dari pola lantai ini ialah penari membentuk garis vertikal, yakni bisa garis lurus dari belakang ke depan atau garis lurus depan ke belakang. Biasanya, pola lantai vertikal banyak diterapkan pada tari tradisional, baik dari Sabang sampai Merauke. Dan pada gerakan pola lantai memberikan kesan, termasuk kesan dari pola lantai vertikal adalah sederhana tapi kuat. 
3. Pola Lantai Diagonal 
Pola lantai Diagonal memiliki maksud yaitu pola lantai ini posisi penari berbaris membentuk garis menyudut ke kanan atau ke kiri atau juga bisa sebaliknya. 
4. Pola Lantai Garis Melengkung 
Yang terakhir ini adalah pola lantai garis melengkung (melingkar) dan banyak dipakai pada tari rakyat dan tari tradisi. Pola lantai ini memberi kesan lemah dan lembut. Yang perlu Anda ketahui pada pola lantai jenis melengkung, yaitu: penari membentuk garis lingkaran. Pola lantai lengkung ular dan pola lantai angka delapan. 
5. Pola Lantai Zigzag 
Pola lantai Zigzag ini datangnya belakangan sehingga tidak begitu populer diterapkan. 
Pola lantai dibuat untuk memperindah pertunjukan karya tari. Oleh karena itu dalam pembuatan pola lantai harus memperhatikan beberapa hal, antara lain bentuk pola lantai, maksud atau makna pola lantai, jumlah penari, ruangan atau tempat pertunjukan, dan gerak tari. Penampilan gerak tari tidak terlepas dari desain garis dan desain pola lantai. Ada dua jenis desain garis yaitu garis lurus dan garis lengkung. Pada desain garis lurus memberikan kesan lembut tetapi juga lemah. Garis-garis mendatar memberikan kesan istirahat, sedangkan garis-garis yang tegak lurus memberi kesan ketenangan dan keseimbangan. Garis melingkar atau melengkung memberi kesan manis, sedangkan garis menyilang atau diagonal memberikan kesan dinamis atau kuat. 
      Desain-desain garis tersebut di atas, tidak hanya dapat dibuat dengan garis-garis tubuh dan tanganserta kaki penari , tetapi dapat juga dibentuk dari jejak atau garis-garis yang dilalui oleh seorang penari atau garis di lantai yang ditinggalkan oleh penari. Pola lantai juga dapat menggunakan properti yang digunakan oleh penari baik jenis penyajian tari tunggal, berpasangan maupun kelompok. Properti yang digunakan penari dapat membentuk desain atas maupun desain bawah. 
Beberapa contoh pola lantai : 
1. Pola lantai yang dipergunakan dalam tari Piring adalah garis lengkung dan membentuk lingkaran. 
2. Tari Saman dengan menggunakan pola lantai garis lurus. 
3. Pada tari Pendet menggunakan pola lantai garis lengkung. 
4. Tari Kecak dengan pola lantai garis lengkung dan membentuk lingkaran. 
TARI BERPASANGAN DAN KELOMPOK 
1. Tari Berpasangan 
Tari berpasangan merupakan bentuk karya tari yang diperagakan oleh dua orang penari secara berpasangan. Pasangan penari dapat berlawan jenis atau sama jenis. Rangkaian gerak tari jenis berpasangan saling mengisi, melengkapi,dan terdapat interaksi dan respons gerak antar penarinya. Tari berpasangan sering juga dipertunjukkan secara berkelompok. Namun, dalam melakukan gerakannya penari tetap berpasang-pasangan. Berikut tari berpasangan yang dipertunjukkan secara berkelompok 
Jenis tari berpasangan ada yang diperagakan oleh penari putra dengan penari putra, penari putri dengan penari putri, dan penari putra dengan penari putri. Setiap jenis dari karya tari berpasangan ini diperagakan dengan memperhatikan hal-hal berikut. 
a. Kedua penari harus saling bekerja sama. 
b. Kedua penari memiliki pemahaman yang sama mengenai karya tari. 
c. Kedua penari dapat menghayati setiap gerak yang diperagakan. 
POLA DALAM TARIAN JAIPONG 
Tari Jaipoyang ditarikan oleh sekelompok penari perempuan di atas panggung mengikuti pola tertentu agar seluruh gerakannya teratur, dari awal hingga akhir. Pola inilah yang akan diikuti oleh semua penari untuk memunculkan gerakan tarian yang kompak. Pola ini ada kaitannya dengan penguasaan panggung sehingga tarian semakin menarik untuk ditonton. 
Pola Lantai Tari Jaipong, Tari Jaipong adalah geraknya yang dinamis mengikuti tabuhan gendang yang unik. Seluruh penari Tari Jaipong akan melakukan gerakan di atas panggung mengikut pola lantai tertentu. Khusus untuk Tari Jaipong, pola lantai yang digunakan dalam tarian ini adalah pola lantai lurus dan zig-zag.
Share:

Kamis, 16 Januari 2020

Kesenian Jawa Barat


Kesenian daerah Jawa Barat terkenal di berbagai daerah, baik lokal maupun nasional. Bahkan keterkenalan itu sudah sampai dunia internasional. Ragam seni dan budaya yang ada di daerah tersebut memiliki keunikan tersendiri. Dari keunikan ini menimbulkan daya tarik bagi warga yang tinggal di luar daerah Jawa Barat dan turis manca negara.

Seni daerah Jawa Barat sangat penting untuk kita ketahui bersama, apakah itu maknanya dan daerahnya. Mengapa? Karena kesenian merupakan warisan sejarah yang pernah ada dan harus terus dijaga atau lestarikan eksistensinya sampai kapan pun juga. Diukur dengan materi, maka kesenian tidak sebanding dengan materi. Keberadaan kesenian di suatu daerah tidak bisa diukur dengan apapun.

1. Tari Jaipong

Jaipongan atau Tari Jaipong sebenarnya merupakan tarian yang sudah modern karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu. Meski modern, tetap saja masyakarkat mengenalnya sebagai tarian tradisional Jawa Barat. Tari ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaitu Degung. Ada banyak alat musik yang menyelingi musik ini, yaitu: Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dan lain sebagainya. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika.

Ada ciri khas dari Tari Jaipong ini, yaitu musiknya yang menghentak, dimana alat musik Kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Pada umumnya, tarian ini dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan bagi warga Jawa Barat.

2. Tari Ketuk Tilu

Kehadiran Tari Ketuk Tilu di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu namun murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan semata. Ketuk Tilu merupakan hiburan yang biasanya digelar pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Karenanya, Tari Ketuk Tilu ini disukai oleh banyak masyarakat terutama di pedesaan (kampung) yang jarang kegiatan hiburan.

3. Kesenian Kuda Lumping

Kesenian Kuda Lumping ini dimainkan oleh orang yang sudah kesurupan dan menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diiringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Kuda Lumping adalah kesenian yang beda dari yang kesenian lain. Yang membedakan adalah dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan.

Beberapa hal yang aneh pada kesenia Kuda Lumping, yaitu:

1. Pemerannya Makan Kaca

Jika Anda pernah melihat orang yang berperan, maka Anda sudah tahu bahwa mereka benar – benar memakan kaca atau beling. Kemampuang mereka kabarnya datang dari kekuatan ghaib.

2. Kebal Dicambuk

Mereka yang berperan dalam kesenian Kuda Lumping juga akan mendapat cambukan layaknya kuda dicambuk. Hanya saja mereka tidak merasakan sakit ketika dicambuk meski cambukan itu terlihat sangat kuat sekali.

3. Kesenian Berbahaya Namun Digemari

Meski berbahaya, kesenian ini tetap saja banyak penggemar atau yang menyukainya. Hal ini terbukti ketika kesenian ini di gelar, maka akan banyak orang – orang dari berbagai lapisan masyarakat yang menyaksikannya.

Keunikan lain tentang Kuda Lumbing dapat Anda sampaikan pada kolom komentar bagi Nada yang sudah pernah menyaksikannya.

4. Wayang Golek

Persis dengan kesenian Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musik Degung dan lengkap dengan Sindennya. Wayang Golek ialah kesenian tradisional dari daerah Jawa Barat, yakni pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang mempunyai keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia.

Pada umumnya, Wayang Golek dipentaskan untuk acara hiburan rakyat, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun terbilang unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, seperti Ramayana atau Perang Baratayudha.

5. Tari Merak

Tari Merak merupakan tarian tradisi suku Sunda. Tari adat ini adalah kesenian yang menggambarkan burung-burung merak yang sedang menari dengan gembira. Tarian ini dibawakan oleh penari wanita-wanita Sunda. Dan pada umumya, tarian merak ini dibawakan untuk acara perkawinan ataupun menyambut tamu dari luar daerah yang datang berkunjung ke tanah Sunda.

Pada konteks kekinian, kesenian tari ini juga sangat cocok ditampilkan untuk menyambut tamu yang datang ke daerah Jawa Barat. Apakah itu, tamunya seorang pejabat, pengusaha, tamu luar negeri dan tamu – tamu lainnya.

6. Tari Topeng

Tari Topeng merupakan tarian suku Sunda yang dibawakan oleh sekelompok orang penari pria atau wanita. Dalam menari mereka memakai topeng khas suku Sunda. Fungsi dari tarian ini untuk menyambut tamu-tamu yang ingin berkunjung datang, dan sebagai pementasan pada saat acara-acara tertentu. Seperti perkawinan, khitanan,dan sebagainya.

7. Angklung

Angklung adalah sebuah alat kesenian yang terbuat dari bahan bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938 an. Awal penggunaannya Angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal atau tradisional. Namun sekarang Angklung sudah mendunia sampai keluar negeri. Beberapa kesempatan banyak warga asing yang belajar alat musik Angklung.

8. Kesenian Degung

Kesenian Degung merupakan bagian dari adat istiadat Sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan masyarakat setempat. Kesenian Degung ini digunakan sebagai musik pengiring atau musik pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, Gendang, Goong, Kempul, Saron, Bonang, Kacapi, Suling, Rebab, dan sebagainya.

Untuk memainkan Degung pada umumnya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari. Degung merupakan salah satu kesenian yang paling populer di propinsi Jawa Barat, karena iringan musik Degung ini selalu dipakai dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional.

9. Rampak Gendang

Rampak Gendang ini merupakan pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan memakai irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya. Pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh Gendang. Seringnya, Rampak Gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.

10. Rengkong

Rengkong merupakan salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya.

11. Kuda Renggong

Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara pertunjukkannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.

12. Kecapi Suling

Kacapi Suling merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional indonesia yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh Mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda, yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda. Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.

13. Sintren

Istilah Sintren berasal dari dua kata, yaitu ”Sinyo” dan ”trennen”. Sinyo mempunyai arti yaitu “pemuda” dan Trennen artinya “latihan”. Jadi, Sintren artinya pemuda-pemuda Indramayu yang sedang berlatih kesenian. Cara memainkan Sintren persis dengan pertunjukan sulap. Seorang penari perempuan awalnya memakai pakaian sehari-hari. Usai dimasukkan ke dalam kurungan sebesar kurungan ayam dan dimasukkan juga busana tari ke dalam kurungan tersebut, dalam beberapa saat pakaian penari tersebut telah berubah dengan pakaian tari khusus.

Kesenian ini sudah sangat jarang dijumpai pertunjukannya. Oleh karena itu, kesenian ini dijadikan sebagai seni tradisional yang memiliki ciri khas khusus yang berkembang di daerah Indramayu.

14. Blantek

Blantek merupakan seni pertunjukan tradisional dari daerah kota Bogor. Bentuk kesenian ini hampir sama dengan Lenong Jakarta. Blantek dimainkan oleh sejumlah penari laki-laki dan perempuan dengan dialog-dialog yang yang mengundang gelak tawa penonton. Atraksi-atraksi para pemain di atas panggung banyak diwarnai dengan lawak dan permainan silat.

Seiring berjalannya waktu, saat ini kesenian Blantek sudah banyak dipengaruhi oleh kesenian Pop dan Dangdut. Masuknya musik Pop dan Dangdut ini tidak hanya berupa lagu-lagu, tetapi juga alat musiknya. Demikian pula tari Jaipongan. Cerita-cerita yang sering ditampilkan adalah Prabu Zulkarnaen dan Ngarah Barni. Alat musik yang dipakai pada setiap pertunjukan Blantek adalah Rebana (biang, katek, dan kebuk), kendang, jihan/rebab, kecrek dan gong. Dan di zaman sekarang ditambah dengan alat musik diatonis seperti gitar melodi, bas, dan keyboard.

15. Sisingaan (Odong-Odong)

Kesenian Sisingaan ini sangat unik karena ada banyak namanya. Beberapa nama lain dari Sisingaan adalah: Singa Depok, Citot, Kuda Depok, Gotong Singa dan juga Odong-Odong yang merupakan khas kesenian daerah Subang, Jawa Barat. Ada semangat heroik pada kesenian ini, yaitu merupakan lambang perlawanan bagi masyarakat terhadap VOC. Kesenian Jawa Barat ini terdiri dari 8 orang pengusung sisingan, penunggang sisingan, 2 sisingan, pengiring musik dan jangan lupa juru kawih.

Berdasarkan aspek filosofis 8 (delapan) orang pengusung ini tersebut melambangkan rakyat pribumi yang tertindas dan terjajah, sedangkan sepasang singa melambangkan Belanda dan Inggris (VOC) yang menjajah Indonesia.

16. Kesenian Tarawangsa


Kesenian Jenreng Tarawangsa atau Tarawangsa pada umumnya dipentaskan saat acara syukuran tradisional, seperti, Ngarosulkeun, Ngaruat, Ngalaksa, Buku Taun, Panenan atau Pada acara syukuran seperti Sunatan dan Pernikahan.

Perpaduan alat musik Jentreng dan Tarawangsa ini Menghasilkan suara yang klasik dan sekilas terdengar Mistis. Kesenian ini juga terdapat dibeberapa daerah Sunda, seperti, Tasikmalaya Selatan, Rancakalong (Sumedang), , Kanekes (Banten) dan Banjaran.
Share:

Pengertian Seni: Fungsi, Tujuan, dan Macam-Macam Seni


Pengertian Seni

seni adalah suatu ekspresi perasaan manusia yang memiliki unsur keindahan di dalamnya dan diungkapkan melalui suatu media yang sifatnya nyata, baik itu dalam bentuk nada, rupa, gerak, dan syair, serta dapat dirasakan oleh panca indera manusia.

Ada juga yang berpendapat bahwa pengertian seni adalah semua hal yang diciptakan oleh manusia yang mengandung unsur keindahan dan dapat mempengaruhi perasaan orang lain. Pada intinya, seni merupakan hasil akivitas batin seseorang yang dinyatakan dalam bentuk karya yang bisa mempengaruhi perasaan manusia.

Pengertian seni secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Sani yang artinya pemujaan, persembahan, dan pelayanan. Dengan kata lain, seni sangat erat hubungannya dengan upacara keagamaan yang disebut juga dengan “kesenian”.
Pengertian Seni Menurut Para Ahli

1. Aristoteles

Menurut Aristoteles, pengertian seni adalah suatu bentuk ungkapan dan penampilan yang tidak
pernah menyimpang dari kenyataan, dan seni itu meniru alam.

2. Plato

Menurut Plato, pengertian seni itu adalah hasil tiruan alam dan segala isinya (ars imitator naturam).

3. Herbert Read

Menurut Herbert Read, pengertian seni adalah ekspresi dari penuangan hasil pengamatan dan pengalaman yang dikaitkan dengan perasaan, aktivitas fisik dan psikologis ke dalam bentuk karya.

4. Thomas Munro

Menurut Thomas Munor, definisi seni adalah suatu alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya.

5. Leo Tolstoy

Menurut Leo Tolstoy, pengertian seni adalah ungkapan perasaan pencipta yang kemudian diungkapkan pada orang lain dengan harapan mereka dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penciptanya.

6. Sudarmaji

Menurut Sudarmaji, pengertian seni adalah manifestasi batin dan pengalaman estetis manusia dengan memakai media garis, bidang, warna, tekstur, volume, dan gelap terang.

7. Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, arti seni adalah hasil keindahan sehingga dapat mempengaruhi perasaan seseorang yang melihatnya, dan seni merupakan perbuatan manusia yang bisa mempengaruhi dan menimbulkan perasaan indah.

8. Alexander Baum Garton

Menurut Alexander Baum Garton, pengertian seni adalah keindahan dan tujuan yang positif menjadikan penikmat merasa dalam kebahagiaan.

9. Drs. Popo Iskandar

Menurut Popo Iskandar, pengertian seni adalah hasil ungkapan emosi yang ingin disampaikan seseorang kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat/berkelompok.

10. Immanuel Kant

Menurut Immanuel Kant, definisi seni adalah sebuah impian karena rumus-rumus tidak dapat mengihtiarkan kenyataan.

11. Hilary Bel

Menurut Hilary Bel, pengertian seni adalah istilah yang digunakan untuk semua karya yang dapat menggugah hati untuk mencari tahu siapa penciptanya.

12. Eric Ariyanto

Menurut Eric Ariyanto, pengertian seni adalah aktivitas rohani atau batin yang direfleksikan dalam bentuk karya dan dapat membangkitkan perasaan seseorang yang melihat atau mendengarnya.

13. Ensiklopedi Indonesia

Menurut Ensiklopedi Indonesia, pengertian seni adalah ciptaan dari segala hal, karena keindahannya maka orang senang untuk melihat ataupun mendengarkannya.

Fungsi Seni


Berdasarkan pengertian seni yang telah disebutkan di atas, fungsi seni secara umum adalah sebagai bentuk/ cara penyampaian ekspresi seseorang kepada orang lain dan lingkungannya. Beberapa fungsi seni dapat bedakan dalam dua kelompok, yaitu fungsi seni bagi individu dan fungsi seni bagi sosial.
A. Fungsi Seni Bagi Individu

Bagi individu, seni memiliki fungsi sebagai alat pemenuhan kebutuhan mereka. Adapun bentuk kebutuhan tersebut diantaranya:

1. Seni Sebagai Alat Pemenuhan Kebutuhan Fisik

Manusia adalah mahluk yang mempunyai kecakapan dalam memberi apresiasi pada keindahan dan penggunaan berbagai benda. Dalam proses pemenuhan kebutuhan fisik ini, para seniman mempunyai peranan penting dalam menciptakan berbagai benda-benda bernilai seni untuk pemuasan kebutuhan fisik dan memberikan kenyamanan bagi orang lain.

2. Seni Sebagai Alat Pemenuhan kebutuhan Emosional

Emosi adalah peraasaan di dalam diri manusia, baik itu perasaan senang, marah, sedih, haru, cinta, benci, dan lain-lain. Semua orang perlu meluapkan perasaan di dalam diri mereka agar kondisi kejiwaannya tetap normal.

Untuk memenuhi kebutuhan emosional tersebut, manusia membutuhkan dorongan dari luar dirinya. Misalnya, seseorang yang punya jiwa seni dan estetika akan mengungkapkan emosinya melalui musik, lukisan. Atau ketika seseorang merasa stress, maka ia membutuhkan waktu untuk rekreasi, nonton bioskop, atau hal lainnya untuk meredakan tekanan jiwa.

B. Fungsi Seni Bagi Sosial

Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan akan interaksi dengan orang lain dan lingkungannya. Dalam hal ini seni juga berfungsi sebagai media untuk pemenuhan kebutuhan sosial tersebut.

1. Seni Sebagai Media Agama/ Kepercayaan

Seni punya peranan penting dalam penyampaian pesan religi/ agama kepada manusia. Hal ini bisa kita lihat dari busana/ pakaian, upacara pernikahan, upacara kematian, lagu rohani, kaligrafi, dan lain-lain. Contoh fungsi seni dalam agama dapat kita lihat pada Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Relief yang terdapat di dinding Candi tersebut merupakan ilustrasi kitab suci agama Budha dan Hindu.

2. Seni Sebagai Media Pendidikan

Seni juga punya peranan penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu :

Pendidikan formal; pendidikan di lingkungan sekolah
Pendidikan non formal; pendidikan di lingkungan masyarakat
Pendidikan informal; pendidikan di lingkungan keluarga

Melalui seni, individu dapat belajar tentang nilai-nilai dan ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya seorang siswa dapat belajar musik atau drama, dimana kegiatan ini dapat mengekspresikan diri mereka kepada orang lain.

3. Seni Sebagai Media Informasi

Melalui seni juga kita bisa menjelaskan sesuatu kepada orang lain dengan lebih mudah. Misalnya penggunaan poster yang bernilai seni dimana di dalamnya terdapat informasi tentang bahaya narkoba, pentingnya imunisasi, dan penyampaian program pemerintah.


4. Seni Sebagai media Hiburan

Sebagian besar yang berkaitan dengan hiburan mengandung unsur seni dimana para pelaku seni dapat mengekspresikan diri secara aktif atau pasif. Seorang seniman dapat merasakan senang, marah, terharu, ketika karyanya disukai atau tidak disukai orang lain. Begitupun individu yang melihat, mendengar, merasakan sebuah karya seni. Manusia bisa merasa terhibur ketika melihat sebuah lukisan, menonton bioskop, atau menonton sebuah konser musik.

Macam-Macam Seni

Seni dapat dinikmati melalui media pendengaran (audio art), penglihatan (visual art), dan kombinasi keduanya (audio visual art).

Secara umum, seni dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:

1. Seni Musik

Seni musik merupakan karya seni yang menggunakan bunyi sebagai unsur utamanya. Selain itu, di dalam musi terdapat juga unsur lain seperti harmonisasi, melodi, dan notasi. Selain dari alat-alat musik, suara musik juga berasal dari manusia, misalnya akapela atau beatbox.

2. Seni Rupa

Seni Rupa adalah karya seni yang dapat dinikmati melalui media penglihatan, atau visual art. Seni rupa fokus pada karya yang memiliki wujud dan rupa yang diekspresikan dalam bentuk lukisan, gambar, patung, kerajinan tangan, multimedia, dan lain-lain.

3. Seni Tari

Seni tari merupakan bentuk seni yang memanfaatkan gerakan tubuh sebagai keindahan. Seorang pengarah tari (koreografer) dapat menyampaikan maksud atau pesan tertentu melalui gerakan tarian. Pada umumnya seni tari digabungkan dengan seni musik. Dengan begitu maka konsentrasi dan konsistensi gerakan tari menjadi lebih sempurna dalam penyampaian pesan dan perasaan.

4. Seni Sastra

Seni sastra merupakan bentuk seni yang dinikmati melalui media pendengaran dan penglihatan. Melalui seni sastra dalam kata-kata, seseorang bisa menyampaikan pesan dan kesan dengan cara yang indah. Contoh seni sastra misalnya puisi (suara) dan kaligrafi (tulisan).

5. Seni Teater

Seni teater adalah seni yang memvisualisasikan imajinasi atau menggambarkan buah pikir seseorang. Hasil imajinasi tersebut berhubungan dengan perilaku mahluk hidup, baik secara individu maupun kelompok. Adapun beberapa kemampuan dasar dalam seni teater adalah kemampuan menciptakan naskah, memahami karakter, dan mengekspresikan karakter dalam naskah.
Share:

Sejarah Seni Tari


Pengertian Seni Tari

Seni tari merupakan sebuah seni yang mempelajari tentang gerak tubuh berirama yang dilakukan pada saat tertentu. Biasanya kita sering menyaksikan pementasan seni tarian baik itu tradisional maupun modern. Bahkan, perkembangan teknologi pun dapat membuat kita belajar mengenai seni tari secara mendalam.

Dalam sebuah seni tari biasanya terdiri dari berbagai macam jenis tari. Di antaranya adalah tari tunggal, berpasangan, kelompok, dan kolosal. Tari tunggal biasanya diperagakan oleh satu orang, sedangkan untuk tari berpasangan diperagakan oleh dua orang.

Jika penari lebih dari dua orang bisa disebut dengan tari kelompok. Sedangkan untuk tari kolosal merupakan tari yang diperagakan lebih dari banyak kelompok. Biasanya tari kolosal ini dilakukan di seluruh daerah di Indonesia.

Sejarah Seni Tari Di Indonesia

Dalam acara adat, tentunya peran tari dalam upacara kerajaan tentu berpengaruh. Bahkan dari dulu hingga kini, tarian digunakan dalam penyambutan tamu. Sehingga sejarah seni tarian di Indonesia dari masa ke masa mengalami perkembangan.

Berikut adalah sejarah seni tari di Indonesia:

1. Era Primitif

Dimulai dari awal sebelum adanya kerajaan di Indonesia, tarian dipercaya sebagai sebuah daya magis nan sakral. Sehingga tercipta tarian yang digunakan berdasarkan kepercayaan mereka. Salah satunya adalah tari hujan, tari eksorsisme, tari kebangkitan, dan lain-lain.

Penciptaan tari ini didasari serta diilhami dari gerakan alam serta meniru gerakan makhluk hidup. Seperti misalnya menirukan gerakan seekor binatang yang ingin diburu. Umumnya, tari di era primitif dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok.

2. Era Hindu Buddha

Sejarah kesenian tari di Indonesia kemudian berlanjut pada masa penyebaran Hindu Buddha, yang mana terpengaruh oleh budaya yang dibawa pedagang.

Mulai dari era Hindu Buddha, sebuah tarian mulai memiliki standardisasi serta patokan, karena ada sebuah literatur tentang seni tari. Literatur kesenian tari ini dikarang oleh Bharata Muni dengan judul Natya Sastra yang membahas 64 jenis gerak tangan mudra.

3. Era Islam

Pada era penyebaran agama Islam, tarian hanya diperagakan oleh orang-orang dari luar Indonesia dan dilakukan pada saat hari raya. Kemudian perkembangan seni tari di Indonesia pada era Islam dimulai tahun 1755 saat kerajaan Mataram Islam terbagi dua.

Dengan dibaginya kerajaan Mataram Islam, kedua kerajaan ini mulai menunjukkan identitas mereka lewat seni tari. Sehingga, tarian yang ditampilkan bisa menjadi sebuah ciri khas dan identitas dari masing-masing kerajaan.

4. Era Penjajahan

Sejarah kesenian tari di Indonesia mengalami kemunduran di era penjajahan dikarenakan suasana saat itu sedang kacau. Akan tetapi, seni tari yang diperagakan di istana tetap dilaksanakan bahkan terpelihara dengan baik. Pada masa penjajahan, kesenian tari hanya diperagakan pada acara-acara penting kerajaan.

Salah satu contoh tarian yang diilhami dari perjuangan rakyat masa penjajahan adalah Tari Prawiroguno. Tarian ini merupakan tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan menggambarkan gagahnya prajurit masa itu. Prajurit dalam tarian ini menggunakan senjata serta tameng sebagai alat untuk melindungi diri.

5. Era Setelah Merdeka

Seni tari terus kembali berjalan setelah Indonesia merdeka sehingga tarian bisa dilakukan untuk upacara adat serta keagamaan. Terkadang, tarian ini juga berkembang saat ini sebagai sebuah hiburan. Selain itu, saat ini sudah mulai banyak anak muda yang mulai tertarik dengan dunia tari.

Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang menyukai tari serta dapat memperagakan berbagai macam jenis tari. Mulai dari tari tradisional bahkan hingga tari modern.
Unsur Seni Tari

Sebuah seni tari merupakan sebuah gerakan ritmis yang diikuti oleh irama tertentu serta alunan music. Dari penjelasan ini, tentunya ada unsur seni tari yang harus ada pada pementasan tarian.

Berikut adalah unsur seni tari yang harus ada:

1. Jenis Gerakan

Dalam sebuah pementasan tari, gerakan tentu menjadi poin penting yang harus ditunjukkan. Bahkan, beberapa gerakan tari ini memiliki aturan baku yang tentu memiliki nilai tersendiri. Sehingga emosi serta ekspresi dari penari bisa ditampilkan dengan tepat.

Biasanya dalam pementasan tari, anggota tubuh yang digerakkan biasanya meliputi tiga bagian. Yaitu anggota tubuh bagian atas, bagian tengah, serta bagian bawah.

2. Musik

Berdasarkan penjelasan di atas, sebuah tarian juga disertai dengan alunan musik. Alunan musik biasanya dimainkan menggunakan instrumen maupun suara yang muncul dari anggota tubuh. Seperti misalnya tari kecak dan tari saman yang diiringi dengan suara manusia.

Terkadang, sebuah music juga dapat memberikan kesan tersendiri serta menunjukkan identitas dari daerah asal tarian tersebut. Karena tidak semua tarian menggunakan satu instrumen maupun alat musik pengiring yang sama.

3. Kostum

Selain music, unsur seni tari yang harus ada dalam pementasan tari adalah kostum. Kostum selain menjadi unsur seni tari juga menjadi sebuah identitas sekaligus lambang dalam sebuah tarian. Aksesoris yang ada pada sebuah kostum tari bisa menjadi simbol tertentu yang berkaitan dengan tarian.

Sehingga sebuah kostum tari harus menunjukkan sebuah nilai keindahan atau estetika sehingga dapat menunjang penampilan seni tari. Biasanya, kostum tari untuk upacara dan kostum tari untuk hiburan memiliki perbedaan yang mendasar. Salah satunya adalah kesederhanaan dalam kostum tari upacara.
Fungsi Seni Tari

Dalam kehidupan, gerak tari menjadi sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan kaitannya dengan seni. Sehingga jika diresapi kembali, tentunya seni tari memiliki fungsi-fungsi tertentu dengan keberlangsungan hidup manusia.

Berikut adalah fungsi seni tari yang harus kita ketahui:

1. Sarana Hiburan

Tarian merupakan sebuah karya seni yang memiliki nilai estetika tinggi. Sama seperti karya seni lainnya, tarian juga menjadi kesukaan banyak orang tidak hanya dari pecinta seni tetapi juga masyarakat awam. Sehingga, timbul fungsi seni tari sebagai sarana hiburan.

Indonesia memiliki berbagai macam tarian di setiap daerah yang tentunya pada saat tertentu sering dipentaskan. Sehingga sering ditemui pesta rakyat dengan menampilkan berbagai macam kesenian, termasuk juga tari-tari daerah.

2. Sarana Bergaul

Selain sebagai sarana hiburan, fungsi seni tari sebagai sarana untuk bergaul, karena bergaul merupakan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Sehingga dengan bergaul dapat memupuk kerukunan dan persatuan antar sesama manusia.

Berbagai latar belakang manusia disatukan dalam sebuah pertunjukan tari, baik itu sebagai penonton maupun sebagai penari. Tidak jarang juga terdapat tari daerah yang melibatkan penonton untuk ikut andil dalam pertunjukan tari.

3. Sarana Upacara Sakral

Tidak hanya itu, fungsi seni tari juga bisa menjadi sarana upacara adat maupun upacara keagamaan. Di sisi lain, tarian juga bisa menjadi sarana mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Tarian sebagai sarana upacara sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan sejak zaman sebelum adanya kerajaan di Indonesia.

Contoh sederhana dari fungsi seni tari untuk upacara sakral bisa ditemukan di Bali, yang mana mereka menggunakan tari sebagai sarana untuk ibadah. Tarian untuk acara sakral ini dipertunjukkan pada satu momen tertentu dan biasanya juga terinspirasi dari peristiwa maupun legenda.

Seni tari merupakan sebuah seni yang tidak bisa lepas dari kegiatan manusia. Tidak hanya sebagai hiburan maupun upacara, tarian juga bisa menjadi media untuk hidup sehat. Karena dengan memperagakan tarian, tubuh kita tentunya bergerak dan dapat melancarkan sirkulasi darah.

Sebagai masyarakat yang memiliki banyak tarian daerah, tentunya tarian daerah harus terus dilestarikan agar seni tari tidak lenyap ditelan zaman. Jangan sampai juga seni tari milik Indonesia diakui oleh negara lain hanya karena kita tidak melestarikan tarian daerah.
Share:

Rabu, 15 Januari 2020

Sejarah dan Perkembangan Tarian Tradisional Sunda


Sejarah tari merak jawa barat

Sejarah tari merak jawa barat – Tari Merak merupakan kesenian tari yang berasal dari tanah Pasundan. Sejarah tari merak jawa barat itu sendiri diciptakan oleh Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950an dan dibuat ualng oleh dra. Irawati Durban pada tahun 1965 .

Dalam Sejarah tari merak jawa barat, Banyak orang salah kaprah mengira jika tarian ini bercerita tentang kehidupan dan keceriaan merak betina, padahal tarian ini bercerita tentang pesona merak jantan yang terkenal pesolek untuk menarik hati sang betina.

Sang jantan akan menampilkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan berwarna-warni untuk menarik hati sang betina. Gerak gerik sang jantan yang tampak seperti tarian yang gemulai untuk menampilkan pesona dirinya yang terbaik sehingga sang betina terpesona dan melanjutkan ritual perkawinan mereka. Setiap gerakan penuh makna ceria dan gembira, sehingga tarian ini kerap digunakan sebagai tarian persembahan bagi tamu atau menyambut pengantin pria menuju pelaminan.

Kostumnya yang berwarna warni dengan aksen khas burung merak dan ciri khas yang paling dominan adalah sayapnya dipenuhi dengan payet yang bisa dibentangkan oleh sang penari dengan satu gerakan yang anggun menambah indah pesona tarian ini, serta mahkota yang berhiaskan kepala burung merak yang disebut singer yg akan bergoyang setiap penari menggerakkan kepalanya.

Dalam setiap acara tari Merak paling sering ditampilkan terutama untuk menyambut tamu agung atau untuk memperkenalkan budaya Indonesia terutama budaya Pasundan ke tingkat Internasional .

Post title Sejarah tari merak jawa barat
sejarah kendang, sinopsis gambar judul asal daerah pencipta kostum seni tari tradisional, peran tari kipas, filosofis tari sumatera, sejarah topeng jawa tengah, sejarah tari buchaechum dari korea, sinopsis tari bali, keunikan tarian, keterangan tari asas dari singapura, sinopsis tari topeng betawi, sejarah macam-macam tarian, ragam tarian lilin, makna tari merak jawa barat, sejarah tari klasik, filosofi gerakan tari merak, gambar tarian dayak dan asal tarian, keunikan kostum tari topeng, gambar pakaian adat serta asal usulnya, kesenian asli ponorogo, kesenian jawa barat lengser tarian adat jawa barat, ciri-ciri tari lilin, macam-macam tarian di jawa timur, makna ngeremo dalam bahasa jawa

Tari Jaipong Jawa Barat

Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.

Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sejara Tari Jaipong

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerakkesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan Tari Jaipong
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong” yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya “kaleran” (utara).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.

Semoga seni tari jaipong ini bisa tetap lestari di Indonesia kita tercinta ini dan jangan sampai diklaim oleh negara lain. Jangan lupa baca juga seni tari Gambyong yang merupakan seni tari


Share:

Kesenian Manorek



Manorek Sinar Rahayu merupakan seni pertunjukan rakyat ‘wayang orang’ yang selalu membawakan cerita tentang sejarah Islam pada zaman Nabi Adam, seperti Umar-Amir misalnya. Namun sayang, grup kesenian Manorek yang didirikan Jimat (llm) pada 1913, di Desa Sindanghayu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis ini ‘tidur pulas’ dalam keterbatasannya.

Balai Pengelolaan Taman Budaya Jabar melalui program revitalisasi seni tradisionalnya, mencoba untuk membangunkan kembali kesenian Manorek Sinar Rahayu itu. Pada Mei 2015 ini, kesenian itu akan ditampilkan dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat di Kabupaten Ciamis dan di Taman Budaya Jabar. Adapun cerita yang akan dipentaskan adalah ‘Kendit Brayung’.

Pimpinan rombongan seni Manorek, Mukti Wibowo, mengatakan, keunikan seni Manorek ini yaitu semua pemainnya adalah laki-laki. Ini karena, pada masa itu (awal berdiri) budayanya masih ketat. Dia mencontohkan, kalau ada adegan pacaran atau bersentuhan antara laki- laki dengan seorang wanita, maka bakal kena aturan sara. “Pada masa itu, seluruh pemain berjumlah 25 orang dan 7 orang nayaga, perkecualian hanya sinden saja yang wanita,” ujarnya.

Kala itu, kata Mukti mengisarkan, Jimat terus menggali potensi dirinya dan lingkungan yang mendukung terhadap seni ini, termasuk juga potensi pasar. Maka, sekitar1960, ia pun mulai memasukkan pemain perempuan dengan jumlah 9 orang. Pemain ini berasal dari Desa Sukajadi sebanyak 7 orang dan 2 orang dari Jawa Tengah. “Dan disinilah proses akulturasi terjadi, baik dalam bahasa, karawitan, atau pun tarian,” katanya.

Walaupun demikian, penggunaan bahasa Jawa terasa masih sangat kental, karena mayoritas pemainnya berasal dari Jawa Tengah yang pindah dan menetap menjadi penduduk Jabar. Selain itu, peminat terhadap kesenian ini adalah mayoritas orang Jawa yang tinggal di Jabar. Terbukti di 1972, satu bulan penuh terjadi 27 kali pentas, yaitu di daerah Banjasari, Desa Cangkring, Desa Padaherang, Munjul, dan antarprovinsi.

Dikatakannya, setiap kali diadakan pementaran, peralatan yang digunakan dalam penampilan wayang orang Manorek ini adalah kendang, kenong, gambang, saron besar, saron kecil, peking, gender, goong, layar, dan lampu patromak. Namun, pada masa itu, alat pengangkutan untuk acara pementasannya dilakukan dengan cara sederhana, yaitu mengunakan roda yang ditarik oleh manusia atau mengunakan pemikul (kata orang Sunda pake rancatan).

Ini, kata Mukti, karena belum banyak kendaraan sepeti sekarang ini. Tapi, acara tetap berjalan lancar karena dilakukan dengan kekeluargaan dan gotong royong yang masih kuat. “Jadi, kalau tempat acaranya jauh maka biasanya alat- alat dibawa sehari sebelumnya, sedangkan semua pemain berjalan kaki untuk acara pementasan,” ujarnya. Betapa sederhananya seniman di zaman dahulu, maka betapa mulianya para seniman zaman dahulu untuk menjaga dan mempertahankan aset kesenian warisan nenek moyang.

Beberapa ceritra yang biasa dibawakan dalam seni Manorek yaitu Kendit Brayung, Centan Sewu, Raja Jubin Balik, Umar Maya Ulang Kasang NM (Umar Jam Pengemis), Gonggo Mino Gonggo Pati, Bentel Kusumo Bentel Mukadas, Roso Wati Roso Kusumo, dan Jiweng Jadi RA HI. Pada setiap cerita yang dibawakan, kata Agustinus, sutradara seni Manorekmaka, para pemain atau wayang, nayaga, dan sinden dalam kesenian ini, harus bisa selaras mengikuti alur tema dalam ceritra tersebut.

“Pemain harus mengusai akting peran,” katanya. Dia mencontohkan, tokoh seorang Raja itu watak dan nada pembicaraannya harus gagah berani sesuai dengan kerjaannya, dan sebagainya. Adapun tarian yang biasa diperankan oleh para Raja dalam kesenian Manorek, yaitu tarian Blendrong Solo atau tarian Rincik-Rincik, sedangkan tarian untuk para ponggawa yaitu tarian Bribil, dan untuk tarian Adipati Umar Maya yaitu tarian Eling-Eling.

Semua tarian itu diiringi oleh gamelan. Namun anehnya, para pemain, nayaga, dan sinden sudah tidak asing lagi atau tidak ragu dalam mengiringi ceritra yang dipentaskan. Untuk memberi ‘tabu’ atau berganti adegan dalam kesenian ini, digunakan sebuah alat yang bernama kohkol kecil. “Dengan teknik yang sederhana dan alat yang masih konvensinal kesenian ini dapat menghibur orang, dan mempunyai harga jual yang tinggi,” ujar Agustinus.

Seni Manorek pasca-Jimat
Semenjak 1974, kesenian Manorek diwariskan dari Jimat kepada menantunya Mingin. Di masa periode ini, kesenian Manorek kurang berkembang, dan entah apa penyebabnya. Kurang lebih dua tahun lamanya Mingin menjadi pimpinan rombongan. Tidak lama kemudian, Mingin pun meninggal dunia. Sepeninggalnya kesenian ini semakin menurun, walaupun posisi pendiri masih ada yaitu Jimat, tapi dalam kondisi yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan kesenian ini karena terserang penyakit gula basah. Kurang lebih dua tahun semenjak meninggalnya Bapak Mingin akhimya bapak Jimat pun meninggal dunia.

Di tahun 1980 keponakan Jimat yang Mukti Wibowa mengambil alih kepeminpinan kesenian Manorek ini. Ia bukan seorang seniman, tetapi memiliki jiwa kepeminpinan yang tinggi, hal ini berdampak pada proses perkembangan kesenian. Manorek yang mulai ada kemajuan. Upaya yang dilakukannya adalah mengolaburasikan seni Manorek dengan seni Ketoprak, karena permintaan pasar terhadap kesenian Ketoprak lebih banyak dibandingkan dengan permintaan kesenian Manorek.

Bukti kesenian Manorek Jimat ada kemajuan, yaitu dengan adanya pementasan dalam acara hajatan atau sukuran. Di bawah ke peminpinan Mukti seni Manorek Sinar Rahayu semakin maju, baik dalam segi permintaan pasar maupun dalam sarana penunjang pentas, terutama alat-alat penunjang seperti; dekor, alat sound sistem, ,juga lampu.

Puncak acara di zaman Mukti yaitu dari 1992 sampai 2002, dalam satu bulan terjadi 19 sampai 25 kali pentas. Pentas tersebut tersebar di berbagai daerah, ada yang pentas di Banjarsari, Padaherang, Langkaplancar„ Ciamis, Bandung, dan di daerah Jawa Tengab yaitu di daerah Siderja, Cilacap, Patimuan sampai ke daerah Wangon dan Gombong. Kenapa demikian?, karena ada dukungan dari Pemerintah Daerah di 198,0 semua anggota Manorek diwajibkan untuk mengikuti penataran atau kursus seni teater.

Namun demikian, sejak 2002 sampai 2004, kesenian tradisional ini kembali mengalami kemunduran. Bahkan samapai sekarang tetap “tertidur pulas”, karena pasar untuk kesenian Manorek menurun, kalah saingan dengan kesenian yang lain, seperti; Kuda Lumping, Pongdut., dan lainnya. Selain masalah pasar, dikarenakan kurang pedulinya sentuhan dari pemerintah untuk mempertahankan aset kesenian dan kebudayaan daerah.

“Namun, alhamdulillah di 2015 ini, tepatnya Januari, Balai Pengelolaan Taman Budaya membangunlcan kesenian Manorek Sinar Rahayu yang lagi tidur, yaitu dengan cara memberikan bantuan dana untuk pembinaan rombongan, baik para pemain atau para nayaga,” ujar Mukti . Bahkan pada Mei ini, setelah melalui proses panjang dalam kegiatan revitalisasi seni tradisi, maka kesenian Manorek akan dipentaskan di Kabupaten Ciamis dan di Taman Budaya. Adapun cerita yang akan dipentaskan adalah ‘Kendit Brayung’.
Share:

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

TATA RIAS, KOSTUM, dan PENGIRING TARI JAIPONG

1. Tata Rias Tata rias yang digunakan untuk wajah tidak terlalu mencolok namun yang membuat mencolok yaitu mengenakan kebaya w...